Jumat, 15 Mei 2009

Manohara : di antara Cinta dan Bunda.... ?

Talking

Manohara : di antara Cinta dan Bunda.... ?


Weh... maaf, tulisan dah lama ngendon di saku...
Yeach..., buat ngungkapkan rasa kangen saya tama temen-temen...
Biasa... ikutan cari... sensasi.. alias kontrofersi.... hhhhhh

Begini.., menurut saya kasus Manohara pantas untuk diangkat. Mengingat kasus ini tidak hanya akan menjadi persoalan dua negara, namun juga akan menjadi persoalan yang tidak mudah bagi Manohara sendiri. Sebab walaupun Dia dilahirkan dari rahim seorang Ibu, akan tetapi hidup ke depan bukanlah milik Ibunya. Sebab suatu ketika atau mulai saat ini Manohara pun harus memutuskan langkah hidupnya sendiri di tengah-tengah persoalan yang cukup rumit dan delematis.

Jujur saja, saya lebih berharap Manohara lebih baik memilih menjadi anggota kerajaan, di mana suaminya berada, daripada harus besar dan melangkah di bawah bayang-bayang Ibundanya.

Saya akui, ini pilihan yang lebih baik dari pilihan yang buruk. Hal ini terjadi mengingat prilaku dan sikap-sikap Ibundanya yang sangat tamperamental dan terlalu berlebihan. Walau apa yang selama ini di ungkap dan dituduhkan dari kisah hidup manohara, sedikit banyak memang mengandung unsur kebenaran.

Akan tetapi situasi di atas, justru menunjukkan kelemahan-kelemahan Ibundanya sendiri. Sebab karakter dan sifat itu ( Bunda Manohara ) bisa menjadi bumerang hidup Manohara dengan siapapun juga ( sebagai suami ).

Analisa di atas di dasari atas berbagai alasan....,

1. Tangisan yang diperdengarkan dalam telpon bersama Ibunya, sebenarnya adalah tangisan dilematis atas pilihan cinta dan keinginan baktinya kepada Bundanya. Ia memang mencintai Pangeran dengan segala kekurangannya. Di lain pihak, Manohara terusik dengan sikap-sikap kontras Bunda dengan Suaminya. Jadi Ia menangisi sikap-2 ibunya yang terlalu berlebihan. Namun Manohara tak kuasa mengatakannya, kecuali hanya menangisi sikap-2 Ibundanya tersebut. Sebuah hal yang masuk akal, jika harus bisa menangis untuk itu.

2. Beberapa kali berseteru dengan seseorang yang kenal cukup dekat dengan keluarga suami Manohara, Daisy selalu menyebut berapa jumlah uang yang telah Dia terima. Fakta ini menjadi kunci atas apa dan mengapa persoalan ini menjadi semakin meruncing dan rumit. Alasan inilah sebagai kata kunci atas kisah cinta Manohara dengan keluarga kerajaan.

Semua, termasuk pernikahan Manohara, tidaklah mungkin terjadi tanpa peran Daisy ( Bunda Manohara ).
Semua..., seakan bertedensi karena Fulus !
Dengan Fulus... seakan semua bakalan lancar... ?
Dan ketika Fulus tidak lancar mengalir..., maka tuduhan-2 pun menjadi sebuah pelampiasan.
Hingga seakan Manohara adalah sekeping Uang... ? Entah siapa yang melihat demikian.... ? Jawab sendiri saja !
Dan... hanya Manohara sendiri yang justru semakin merasakan kepedihan ini.... ?
Manohara... hanyalah sekeping Uang !


3. Siapakah yang memiliki bibir atas yang tebal... ( Perhatikan dan amati sendiri... ? )
Dialah orang-orang yang tidak pernah puas dengan apa yang selalu diterimanya.... !
Bahkan merusak atau menjual darah dagingnya sendiri akan mudah dilakukan.... ( secara sadar atau tidak disadarinya ).
Dan hanya orang-orang yang akan celaka yang akan selalu... mengikuti kehendaknya... !

****

Manohara.. oh Manohara... !
Hadapilah semua ini dengan cermat... !
Hidupmu adalah milikmu....
Bukan milik siapa juga...

Jangan kau... gegabah !
Mengikuti Nyanyian dan Tarian orang yang salah... !
Ada banyak bakti yang bisa dilakukan.... untuk diberikan kepada orang yang salah !
Sebab bakti adalah hati.... bukan kata-2 dan Uang !

Manohara... oh Manohara...
Pilih hidupmu.... yang banyak dikelilingi orang-2 yang benar... !
Bukan malah memilih... satu orang yang salah... di banyak kesalahan di sekitarnya... !

Manohara... Oh Manohara....
Wajahmu... sedikit banyak telah memancar kebahagiaan....
Karena Kau memang berhak atas Kabahagiaan... !
Bukan malah Kesalahan...
Salam.....


By Masidan.

Kamis, 12 Februari 2009

Haruskah kita mesti berselisih... ? ( Tips )

Wink

Haruskah kita mesti berselisih... ?
( Tips )


Berseteru...,
Bertengkar...,
Pertentangan....
Dan semua bentuk konflik antar pribadi maupun kelompok... ?


Haruskah... ?
Ya..., ibarat hidup itu sendiri, seakan tak pernah lepas dengan persoalan tersebut ( baca konflik ). Hampir di semua lini, baik dengan lingkungan, famili, sudara, teman ( sahabat ) bahkan dengan keluarga sendiri.

Pertentangan dan segala bentuk konflik selalu saja. bahkan bisa dipastikan akan menghiasi hubungan sosial kita dengan orang lain.

Jengkel, marah, tersinggung, dendam, dan semua bentuk perasaan yang dimunculkan akibat konflik itu sendiri, suka atau tidak, memang harus diterima. Sebab begitulah adanya.

Menolak... ?
Hasilnya sama saja. Tetap akan jengkel, marah dll.
Di samping itu, tidak berharap adanya konflik dalam sebuah dinamika kehidupan ( yang mesti berhubungan dengan orang lain ) adalah sebuah kemustahilan !
Semua pasti akan mengalami !

Tapi sayang..., semua bentuk konflik yang terjadi, baik antar personal dan kelompok ( bisa juga komunitas ) dengan pribadi atau kelompok yang lain, justru malah selalu dipahami secara negatif.

Dipandang dan di nilai secara sempit.
Demikian sehingga, konflik dan pertentangan justru malah menimbulkan dampak-dampak yang negatif pula. Akan berdampak negatif seperti : dendam, perkelahian, perpecahan, putusnya hubungan, bahkan sampai pada pembunuhan.

Keadaan di atas, jika harus disikapi secara sempit maka justru akan membuat semakin kacau dinamika personal ( perkembangan psikologis seseorang ) maupun secara sosial ( menjadi perpecahan, kacau dll ).

Untuk itu, pemikiran-pemikiran yang sempit atas konflik, bisa disimpulkan bahwa seseorang atau sekelompok orang, tidak mau atau tidak mampu memahami sudut pandang orang lain ( yang dianggap benar oleh orang lain ).

Perlu di ingat juga bahwa konflik atau segala bentuk pertentangan, terjadi akibat perbedaan sudut pandang yang ada.
Artinya, semua merasa mempunyai alasan dan pembenar atas suatu persoalan.

Perbedaan sudut pandang..., kesalahpahaman pemikiran dan masih banyak faktor yang melingkupinya. Bisa saja kedua-duanya benar. Atau yang lain kurang paham, dll.

Atau...,
Bisa juga terjadi karena saking gobloknya salah satu pihak .....
Tapi, jika pihak yang lain juga menanggapi kebodohan orang ..., berarti sama saja orang tersebut... sama-sama gobloknya.... ! wakakak... !
Dengan begitu bisa di tarik kesimpulan, bahwa konflik terjadi karena di picu oleh ketidakpahaman sudut pandang orang lain.

Ya ... mau bagaimana lagi, sudah tahu bodoh dan tak tahu malah ditanggapi. Malah jadi sulit untuk membedakan mana yang sebenarnya bodoh dan tidak tahu... ? : D kkkkkkk....

Akhirnya..., semua terjadi karena merasa benarnya sendiri....
Orang lain pasti salah !
Merasa paling hebat ...,
Merasa sudah jadi malaikat sejati....
Kalau sudah begini..., siapa yang sebenarnya bodoh dan kurang kerjaan... ?
Atau malah semua sudah tidak beres.... ( jiwanya ) ??? Semua malah seperti merasa jadi malaikat.... ? hehehe....
ya..., renungkan sendiri !

*****

Oke..,
Singkatnya..., kita tidak mungkin bisa mencegah adanya sebuah perbedaan.
Sebab perbedaan adalah ciri dari sebuah dinamika hidup itu sendiri.

Dengan demikian, konflik adalah bagian dari dinamika itu. Tanpa konflik, tidak mungkin kita bisa berkembang dan maju. Maka sudah sewajarnya jika perseteruan atau perselisihan harus disikapi dengan positif. Suka atau tidak suka. Sebab efeknya akan sama saja.

Malah jika kita mau menanggapi dengan positif dan menerima sebagai sebuah kenyataan hidup, maka kita pun akan mampu berkembang dan maju. Kecuali itu, hal ini justru bisa membuat kita lebih enteng atau mudah mengatasi semua konflik yang ada
.

Akhirnya..., berfikir positif dalam menghadapi semua persoalan ( termasuk di dalamnya konflik ), akan membuat diri kita semakin banyak mendapatkan energi positif. Sebuah energi yang mampu memberi kekuatan hidup. Kekuatan hidup yang akan selalu mendorong kita untuk berkembang dan maju.

Tentu saja jika hal tersebut bisa dilakukan, maka sukses dalam banyak hal akan semakin nampak di depan mata kita...., amin.


Semoga banyak manfaatnya.

Salam.
Masidan.

Jumat, 06 Februari 2009

Ketua DPRD SUMUT Meninggal, Salah Siapa ? (Refleksi Kritis)



Ketua DPRD SUMUT Meninggal, Salah Siapa ?


Maaf ini tinjauan kritis ttg Moralitas Bangsa ! ( Bukan tinjauan Politik )

Kematian Ketua DPRD SUMUT memang cukup mengundang perhatian banyak pihak. Ya..., meninggal di tengah menghadapi unjuk rasa yang anarkis. Berita pun menjadi heboh ! Semua bisa dimaklumi, mengingat almarhum adalah ketua dewan Propinsi SUMUT.

Kemudian...,
Sebagaimana kultur masyarakat indonesia yang sering dipakai, jika terjadi peristiwa yang mengundang perhatian, apalagi ada korban tertentu, maka mengkambing hitamkan yang lainnya seakan menjadi lagu lama yang terus dituduhkan dan di cari-cari.


Ada yang bilang Polrinya yang tidak bertindak cepat ?
Kapolda & Kapolresnya yang harus dicopot ?
Ada yang bilang karena ada media lokal yang mempropaganda kasus tersebut.
Wah pokoknya macam-macam kambing hitamnya.


Akhirnya, semua menjadi melupakan beberapa hal yang seharusnya malah perlu diangkat dibalik hikmah tragedi tersebut

Di antaranya :

1. Saya heran, mengingat beratnya menjadi anggota dewan, apalagi menjadi ketua dewan, punya penyakit jantung kronis saja masih dipertahankan ?
Di telaah dari segi apapun, sudah nampak ada sistem yang seakan memang membiarkan sesuatu yang sangat rentan terjadi ( termasuk tragedi meninggalnya Ketua Dewan di SUMUT ). Belum di tinjau dari sisi mobilitas ataupun kesiapan fisiknya, tentu saja sudah tidak layak untuk tugas seberat itu ( aggota DPR atu DPRD ).


2. DPR dan kepentingan masyarakat tidak bisa dipisahkan. Dan sudah menjadi tanggung jawab DPR/D jika ada persoalan dengan kepentingan masyarakat itu sendiri. Kemudian, seharusnya DPR/D juga harus bisa memprediksi atau menganalisa segala kemungkinan yang akan terjadi atas segala kebijakan politik maupun publik.

Justru malah menjadi tanggung jawab mereka untuk berusaha menjadikan persoalan publik supaya tidak menjadi kacau atau anarkis. Demikian sehingga, mereka seharusnya melakukan komunikasi-komunikasi politik kepada masyarakatnya untuk bisa menemukan solusi ataupun rekayasa politik yang terbaik ( tentu saja rekayasa positif ). Bukan malah mendiamkan atau tak mau tahu segala kemungkinan yang akan terjadi.

Untuk itu, peristiwa unjukrasa yang cenderung anarkis, tak lepas dari lemahnya tanggung jawab Dewan untuk bisa meminimalisir persoalan tersebut agar tidak menjadi anarkis atau kacau. Bukankah itu sudah menjadi bagian dari tanggung jawab mereka.

Oleh karena itu, kalau terjadi anarkisme di dalam masyarakat, mereka tak bisa lepas tangan dengan persoalan itu. Sebab bisa jadi semua akibat macetnya komunikasi politik dan juga lemahnya kinerja mereka sendiri.


3. Karena tugas dewan yang tidak ringan, maka sudah menjadi kesiapan mereka untuk memikul tugas berat menjadi anggota DPR/D. Tentu saja dengan segala resiko yang tidak ringan pula. Termasuk di dalamnya resiko di penjara atau menjadi korban proses politik, harus siap dipikul dan diterimanya.

Untuk itu, contoh peristiwa DPRD SUMUT adalah sebagian resiko sebagai anggota dewan. Sebab kalau tidak mau resiko, sebaiknya tidak usah menjadi anggota dewan. Jadi jangan cuma mau enaknya saja.

Sehingga, bisa jadi lemah kinerja, justru akan menjadi resiko sendiri atas kegagalan proses politik di tempat mereka berada. Kemudian keadaan itu bisa saja membawa korban, kalau tidak masyarakatnya sendiri atau malah mereka sendiri. Korban, akibat kegagalan komunikasi atau proses politik yang seharusnya mereka bangun.

Bagaimana... mau cari kambing siapa ? hehehe.....


4. Mati..., bisa banyak sebab. Tapi kalau ajal sudah menanti, kapanpun dan dengan sebab apapun pasti akan terjadi. Penyebab hanyalah sebatas persoalan cara dan hikmah belaka. Ketika sesorang telah menjelang takdir.

Mati atau meninggal..., tak akan pernah bisa dihidupkan lagi.
Dan hikmah ( sebab akibat atau persoalan hukum yang memungkinkan ditindak lanjuti, kalau tidak ada ya sudah, selesai di situ saja ! ) akan selalu bisa menjadi pelajaran semua pihak.


Semoga Anggota DPRD, Partai atau Siapapun juga..., untuk tidak mudah mencari "kambing warna hitam" milik warganya sendiri.... !!! Sebelum mampu bisa melihat diri sendiri...

Siapa tahu... ternyata malah kita sendiri Kambingnya... ! wakakak.... !

Mudah-mudahan ada manfaatnya.

By Masidan.